Langsung ke konten utama

Gerimis 30 Hari_Juni 2026


 

N : Nyatanya semua aku hadapi sendiri


Ada satu fase dalam hidup yang tidak pernah benar-benar diajarkan kepada kita. Yaitu bagaimana rasanya tetap berdiri, bahkan ketika tak ada lagi yang hadir dan berdiri di samping kita. Hanya ada diri sendiri, tak ada lagi berdua, bertiga, ataupun berlima dan seterusnya. Aku kira dulu, kesepian adalah tentang tidak punya siapa-siapa. Tentang sunyi yang nyata, tanpa kehadiran, tanpa suara. Tapi ternyata aku salah dan lupa. Kesepian justru sering datang di tengah keramaian, di antara percakapan yang terasa hampa. Di balik senyum yang dipaksakan, di sela hari yang tampak baik-baik saja.


Di titik itulah aku mulai memahami makna dari “menghadapi semuanya sendiri.” Bukan karena tidak ada orang lain, tapi karena pada akhirnya, ada hal-hal yang memang tidak bisa dibagi. Ada rasa yang terlalu dalam untuk dijelaskan dan terlalu rumit untuk dimengerti. Bahkan oleh mereka yang paling dekat sekalipun, yang terkadang kita sebut sebagai sahabat sejati.


Sekarang, aku tidak lagi menangis setiap kala. Tidak juga terlihat rapuh di hadapan para bala. Justru seringnya aku terlihat baik-baik saja. Tersenyum, bekerja, menjalani rutinitas seperti biasa. Tapi di dalam, ada bagian yang diam-diam lelah karena harus terus kuat tanpa jeda. Dan anehnya, semakin lama aku menjalani ini, semakin aku mengerti bahwa kesendirian bukan tentang kehilangan orang lain saja. Tapi tentang menemukan diriku sendiri dalam bentuk yang paling jujur dan bersahaja.


Hari ini, aku masih menjalani semuanya sendiri. Masih ada rasa yang sesekali datang tanpa permisi. Masih ada luka yang belum sepenuhnya pulih. Tapi aku tidak lagi merasa kosong seperti dulu. Karena sekarang aku tahu, aku tidak benar-benar sendiri. Aku punya diriku sendiri.

Dan untuk saat ini, itu sudah cukup. Jika kamu bertanya bagaimana rasanya… Rasanya sepi, iya. Tapi juga…kuat, dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Dan itu membuatku bangga, sebangga-bangganya. Pada diriku sendiri yang mampu bertahan dan menjalani semuanya. Dengan tetap tersenyum meski sedang tak baik-baik saja.


#Gerimis_Jun26_17 #Gerimis30hari @gerimis30hari

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...