P : Penata ruang atau penulis diary? Tetap bekerja dan melakukan hobby di waktu yang sama
Di bio instagram ku tertulis “seorang penata ruang dan penulis diary”. Ya, aku adalah ibu pekerja di siang hari. Namun menjadi seorang penenun rindu di malam hari. Aku juga mencantumkan huruf ISFP, sesuai hasil test MBTI-ku.
Sebagai seorang penata ruang di sebuah instansi pemerintahan tentu aku harus selalu belajar dalam pelayanan terhadap publik di kota tempat aku bekerja. Sedangkan sebagai penulis diary, aku mengaitkannya dengan kepribadian ISFP-ku.
Ada yang pernah bilang padaku, seseorang dengan kepribadian ISFP adalah seorang yang kalem, artsy, dan super peka. Nggak banyak omong tapi ekspresinya sering muncul lewat gaya atau karya. Dan bagiku, menulis selalu menjadi satu-satunya cara untuk merapikan kekacauan yang tak pernah selesai dalam kepala. Seperti yang kubilang tadi, kadang aku menulis sambil menangis, kadang sambil berpura-pura tertawa. Kadang sambil menahan napas dan sesak di dada. Takut kalau-kalau kejujuran di halaman itu terlalu menyala dan membakar keberanianku yang rapuh kemudian hatiku tak lagi bahagia.
Aku tumbuh dewasa dengan wajah yang tampak baik-baik saja. Tapi dada sering penuh dengan gemuruh yang tak terlihat oleh mata. Dalam berteman, aku jadi bayangan, ada, tapi tak pernah benar-benar hadir sosoknya. Suara orang lain terasa bising, sementara suara ku sendiri ingin bersembunyi di balik meja kerja.
Jadi jika ada pertanyaan, aku ini lebih cenderung sebagai penata ruang atau penulis, akan ku jawab kalau bisa dua-dua nya kenapa tidak? Asalkan tidak setengah-setengah dalam menjalaninya. Penata ruang ketika sedang mode bekerja, dan menjadi penulis diary saat melakukan hobby nya
#Gerimis_Jun26_15 #Gerimis30hari @gerimis30hari

Komentar