Langsung ke konten utama

me in my forty -- part 35


 

Chapter DESEMBER

Part 2 (akhir)

Perempuan tidak bercerita,, dia hanya prengat prengut, cemberut, emosian tak berkesudahan, galau dan marah marah seharian. Tiba-tiba mencari drama korea dari aktor kesayangan. Tiba-tiba pula menyanyi lagu Ambyar dari Mas Denny Caknan, namun tiba-tiba pula dia jadi punya karya dalam aksara.

Buku pertamanya terbit di akhir tahun 2024. Bagaimana dia tidak bahagia, itu salah satu impiannya sejak dulu kala. Selamat atas pencapaianmu, wahai Jihan Maria Ulfa. Sudah siapkah dengan tantangan di tahun 2025? Semua harus kamu jemput dengan perasaan tenang dan bahagia, ya.

Part ini akan jadi cerita akhir dari buku ini. Tak terasa, tiga puluh lima bagian sudah ku selesaikan. Tantangan yang mengharuskanku konsisten menulis setiap hari di sela-sela pekerjaan. Dan, ternyata aku bisa menaklukkannya. Proud of me,, kamu hebat, Jihan.

Setelah ini rasanya aku butuh jeda. Butuh waktu untuk beristirahat sebentar dari kegiatan menulisku ini. Semoga tidak berlangsung lama. Tapi, maaf, ceritaku mungkin sudah tak terekam di platform manapun, pun di dua akun instagramku, ataupun facebook ku. Karena aku hanya akan menuliskannya di diary untuk merangkum cerita di tahun ini. Yang mudah-mudahan jika masih ada umurku, akan kuceritakan di tahun depan, di buku solo keduaku

Aku butuh spasi untuk mengembalikan mood untuk menulis lagi. Tidak untuk berhenti seperti titik di akhir kalimat. Aku hanya butuh tanda koma dan spasi untukku beristirahat. Mudah-mudahan nanti setelah semua ku mulai lagi, teman-teman masih berkenan membaca cerita-cerita random-ku, yaa.


Sedikit bercerita. Aku pernah membuat cerita yang terangkum melalui penjabaran huruf sesuai tanggal aku menulis. Aku juga pernah merangkai semua cerita dalam sebuah tema “It’s My Journey, Life Begins at Forty.” Karena hampir semua cerita adalah perjalananku menuju usia kepala empat di tahun 2023.

Hujan yang turun di luar malam ini semakin membuatku berintrospeksi. Bahwa untuk mencapai tujuan yang aku ingin, aku harus terus berlari. Namun, jika di antaranya ada duri, aku harus sejenak berhenti. Mengambil nafas, kemudian harus segera bangkit lagi. Aku berusaha memahami bahwa, terkadang hujan sengaja turun, agar aku berteduh dan berhenti mengejar sesuatu yang tidak perlu. Terkadang perlu koma dalam pekerjaan alias cuti agar pikiran fresh lagi. Seperti tulisan yang butuh koma dan spasi untuk mencapai titik dari sebuah kalimat, aku butuh jeda untuk membuat cerita yang lebih menarik lagi. Hari ini aku pamit sejenak dari menulis buku solo pertamaku tahun ini. Insyaa Allah jumpa lagi bulan atau tahun depan atau entah kapan ya, dengan konsep yang lebih matang dan ceria. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...