Minggu, 05 April 2026

me in my forty -- part 35


 

Chapter DESEMBER

Part 2 (akhir)

Perempuan tidak bercerita,, dia hanya prengat prengut, cemberut, emosian tak berkesudahan, galau dan marah marah seharian. Tiba-tiba mencari drama korea dari aktor kesayangan. Tiba-tiba pula menyanyi lagu Ambyar dari Mas Denny Caknan, namun tiba-tiba pula dia jadi punya karya dalam aksara.

Buku pertamanya terbit di akhir tahun 2024. Bagaimana dia tidak bahagia, itu salah satu impiannya sejak dulu kala. Selamat atas pencapaianmu, wahai Jihan Maria Ulfa. Sudah siapkah dengan tantangan di tahun 2025? Semua harus kamu jemput dengan perasaan tenang dan bahagia, ya.

Part ini akan jadi cerita akhir dari buku ini. Tak terasa, tiga puluh lima bagian sudah ku selesaikan. Tantangan yang mengharuskanku konsisten menulis setiap hari di sela-sela pekerjaan. Dan, ternyata aku bisa menaklukkannya. Proud of me,, kamu hebat, Jihan.

Setelah ini rasanya aku butuh jeda. Butuh waktu untuk beristirahat sebentar dari kegiatan menulisku ini. Semoga tidak berlangsung lama. Tapi, maaf, ceritaku mungkin sudah tak terekam di platform manapun, pun di dua akun instagramku, ataupun facebook ku. Karena aku hanya akan menuliskannya di diary untuk merangkum cerita di tahun ini. Yang mudah-mudahan jika masih ada umurku, akan kuceritakan di tahun depan, di buku solo keduaku

Aku butuh spasi untuk mengembalikan mood untuk menulis lagi. Tidak untuk berhenti seperti titik di akhir kalimat. Aku hanya butuh tanda koma dan spasi untukku beristirahat. Mudah-mudahan nanti setelah semua ku mulai lagi, teman-teman masih berkenan membaca cerita-cerita random-ku, yaa.


Sedikit bercerita. Aku pernah membuat cerita yang terangkum melalui penjabaran huruf sesuai tanggal aku menulis. Aku juga pernah merangkai semua cerita dalam sebuah tema “It’s My Journey, Life Begins at Forty.” Karena hampir semua cerita adalah perjalananku menuju usia kepala empat di tahun 2023.

Hujan yang turun di luar malam ini semakin membuatku berintrospeksi. Bahwa untuk mencapai tujuan yang aku ingin, aku harus terus berlari. Namun, jika di antaranya ada duri, aku harus sejenak berhenti. Mengambil nafas, kemudian harus segera bangkit lagi. Aku berusaha memahami bahwa, terkadang hujan sengaja turun, agar aku berteduh dan berhenti mengejar sesuatu yang tidak perlu. Terkadang perlu koma dalam pekerjaan alias cuti agar pikiran fresh lagi. Seperti tulisan yang butuh koma dan spasi untuk mencapai titik dari sebuah kalimat, aku butuh jeda untuk membuat cerita yang lebih menarik lagi. Hari ini aku pamit sejenak dari menulis buku solo pertamaku tahun ini. Insyaa Allah jumpa lagi bulan atau tahun depan atau entah kapan ya, dengan konsep yang lebih matang dan ceria. 

Sabtu, 04 April 2026

me in my forty -- part 34


 

Chapter DESEMBER

Part 1

Desember, kalau ngendikane Simbah artinya gedhe-gedhene sumber, besar-besarnya sumber, sumber rezeki dan sumber kebahagiaan. Namun, jika dikaitkan dengan musim hujan juga bisa berarti besar nya sumber bencana, banjir. Semoga tidak terjadi lagi. Aamiin

Tidak banyak yang bisa aku ceritakan pada chapter Desember ini selain ungkapan kebahagiaan karena telah menutup akhir tahun 2024 dengan terbitnya antologiku yang pertama. Beberapa teman yang mengenalku sangat penasaran bagaimana aku bisa menghasilkan sebuah buku. Baik, akan coba ku ceritakan kronologinya.

Karena hobiku menulis, algoritma sosial mediaku tiba-tiba menayangkan beberapa halaman tentang penerbitan buku. Baik itu antologi maupun solo. Aku tertarik untuk ikut tema Perjalanan Menjadi Seorang Pegawai Negeri Sipil. Dan, kebetulan aku punya beberapa draft mengenai tema tersebut. Jadilah aku mendaftar sebelum waktu registrasi ditutup. Setelah beberapa waktu aku di invite ke grup WhatsApp untuk berkoordinasi bersama peserta lain karena ini akan jadi antologi atau buku bersama kami. Dalam grup tersebut dijelaskan tahap-tahap apa yang akan dilewati. Dari mulai sesi pengumpulan naskah, pemilihan cover, editing naskah, pre order cetak buku, kemudian penerbitan buku. Semua membutuhkan waktu kurang lebih 3 (tiga) bulan. 

Dalam sesi pre order dari admin grup menjelaskan bahwa jika peserta memesan minimal 2 (dua) buku, maka bisa ikut event antologi lain, yaitu Kisah Dua Hati (Ibu dan Anak). Kebetulan juga, aku mempunyai draft cerita sesuai tema yang diberikan, jadilah aku memesan buku cetak 2 (dua) buah agar bisa mendapatkan bonusnya. Di sesi lain, aku dapat bonus event gratis yaitu ikut antologi Hati Yang Menyatu. Saat ini sedang tahap pre order buku. Dari event bonus gratis aku juga diundang untuk mengikuti event antologi yang lain yaitu Rindu Yang Tertulis, yang saat ini sedang tahap pengumpulan naskah. Tiga antologi sudah berhasil aku selesaikan, sambil menunggu sesi editing sendiri yang akan dibagikan kepada peserta. 

Dalam foto, aku sedang memegang buku antologi pertamaku bersama teman-teman Aparatur Sipil Negara dari berbagai daerah. Aku sudah membaca karya mereka. Secara garis besar perjuangan kami tak jauh beda. Berjuang berkali-kali, gagal berkali-kali juga, namun jika sudah menjadi rejeki, semua pasti akan menghampiri. Banyak juga kisah menarik lainnya seperti long distance relationship karena pasangan yang penempatan kerjanya berjauhan atau kisah ketegaran para ibu pekerja di instansi pemerintahan yang “terpaksa” menitipkan putra putrinya dalam pengasuhan orang lain atau orang tua. Relate sekali dengan kisahku, bukan? Karenanya aku bahagia, aku harus tetap semangat. Ternyata aku tidak sendiri mengalami hal ini. Sebuah perjuangan untuk masa depan yang harus dirayakan.

Alhamdulillah, terimakasih atas full support dari penerbit Alineaku. Terima kasih teman-teman penulis yang hebat, kalian keren sekali. Mari kita rayakan perjuangan ini dengan senyum bahagia. Tunggu buku antologi aku yang kedua, ketiga, dan seterusnya yaa. ^_^

Jumat, 03 April 2026

me in my forty -- part 33


 

Chapter NOVEMBER

Part 5

Menjadi penulis adalah salah satu cita-citaku ketika masih kecil. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, hobi menulisku ini sudah ku tekuni sejak masih mencurahkan isi hati di diary. Kemudian berpindah ke blog namun tak berlangsung lama karena aku beralih ke caption di media sosial pribadi. Sebenarnya jika mau dikumpulkan, caption yang kita tulis setiap hari bisa jadi buku lho, dan ini yang sedang aku lakukan ^_^

Saat ini meskipun menulis baru jadi hobi karena aku sedang berkarir sebagai Aparatur Sipil Negara bidang teknis, namun hobi ini akan aku seriusi. Kalau tidak, aku tidak akan mau capek-capek ikut kelas menulis di sana sini. Juga tidak akan berhasil menelurkan sebuah antologi. Seperti yang kalian lihat di foto part ini. 

Yaa, itu buku pertamaku sebagai penulis barengan, dan yang sedang kalian baca ini Insyaa Allah akan jadi buku solo pertamaku. Saat aku ikut kelas bahasa inggris, aku pernah berbagi tips kepenulisan sebagai sesi speaking. Apakah kalian mau membacanya ?

Because I like to write, I would like to share about how to write a personal experience into an interesting story.

  1. Remember the events that have been experienced, such as achievements that have been achieved, lost your motivator, etc.
  2. Write the main events, such as the people involved in our story, where and when did the story take place,etc.
  3. Writing for yourself first, cause that will dig up memories of experiences from the stories written, how deep we can remember the events.
  4. To turn it into a story that many people will read, mix it with our imaginations, improve it.
  5. Last but not least, keep our mood so we can process words well, and start telling.

For me, writing our story in a diary is one way to self healing.

*bahan one on one terakhir di kelas English For Basic. Mohon maaf kalo bahasa inggrisnya masih belepotan.

Sebagai penutup hanya mau bilang, “Sekecil apapun peranmu dalam kehidupan ini, minimal tinggalkan satu buku yang mencerahkan atau satu artikel yang menginspirasi. Dengan begitu, jejakmu tak hanya menjadi cerita pribadi, tapi juga cahaya bagi orang lain.”

Kamis, 02 April 2026

me in my forty -- part 32


 

Chapter NOVEMBER

Part 4

Membersamai anakku dan beberapa teman sekelasnya sebagai seorang teacher mengingatkanku pada pekerjaan lamaku. Aku pernah menjadi tentor di salah satu bimbingan belajar Matematika di Cibubur, Jawa Barat. Kemudian sebelum menjadi Aparatur Sipil Negara seperti sekarang aku sempat punya usaha memberi les kepada anak-anak seusia Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Ketika ada program belajar kelompok dari sekolah, tentu aku semangat menjadi wali murid mengajar. 

Beberapa kali belajar melalui offline bergiliran dari rumah ke rumah namun karena cuaca saat ini yang sedang tidak bersahabat untuk kesehatan, akhirnya aku gerak cepat mengantisipasi dengan membuat akun Google Meet untuk mendampingi belajar mereka lewat online. Dan, tentu semua jadi lebih efisien dan efektif karena bisa sambil mengerjakan tugas yang lain. 

Belajar di kelas ujung memang perlu strategi. Biasanya anak-anak akan saling tanya jawab tentang materi yang dipelajari di sekolah selain membahas pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Terkadang juga setor hafalan karena ada program tahfidz juz 30 di sekolah anakku. Mungkin jika aku membuka lagi Ghani Learning Center yang kuusahakan dulu masih banyak anak-anak yang mau belajar denganku. Tapi aku tidak mau, selain repot karena waktu dan tenaga juga, aku bisa jadi bahan ghibahan para guru yang memang memiliki usaha memberi les tambahan untuk siswanya. Aku tidak mau menghalangi pintu rezeki orang lain. 

Rabu, 01 April 2026

me in my forty -- part 31


Chapter NOVEMBER

Part 3

Menjadi narasumber di depan berbagai audience yang berbeda belum pernah ku lakukan sebelumnya. November 2024 aku beberapa kali ditugaskan berbicara di depan umum. Jika tidak pada bidang yang aku kuasai tentu aku akan menolak tugas tersebut. Part ini aku akan menceritakan salah satu pengalamanku ketika menjelaskan sebuah aplikasi tentang pertanahan dan tata ruang sesuai dengan bidang tugasku di tempat kerja.

Aplikasi tersebut bernama “Sentuh Tanahku”. Manfaat menggunakan aplikasi ini adalah untuk mengetahui lokasi bidang tanah kita sesuai dengan dokumen sertifikat yang kita punya. Setelah digabung dengan peta peruntukan atau zonasi akan didapatkan apa saja kegiatan yang diperbolehkan pada lokasi bidang tanah yang kita punya.

Aplikasi “Sentuh Tanahku” bisa di download melalui play store dengan menggunakan email untuk mendaftarkan username dan password kita. Untuk mengetahui lokasi bidang tanah kita perlu disiapkan dokumen sertifikat yang akan dilacak. Pada menu aplikasi tersebut klik lokasi bidang tanah kemudian pilih sertifikat analog atau sertifikat elektronik.

Jika sertifikat elektronik langsung input NIBEL (beberapa digit angka yang ada di halaman pertama sertifikat) dan kode sertifikat yang ada di kiri bawah halaman pertama, kemudian klik “cari bidang tanah”. Jika sertifikat yang dipunya adalah sertifikat analog, maka harus dipilih terlebih dahulu jenis hak atas tanah nya apakah hak milik, hak guna bangunan, hak guna usaha, hak pakai, hak pengelolaan, atau hak wakaf. Kemudian pilih kantor pertanahan ada di wilayah kabupaten atau kota mana, pilih desa atau kelurahan, kemudian input lima digit angka nomor ha katas tanahnya. Langkah terakhir adalah klik “Cari Bidang Tanah”. Aplikasi ini terhubung dengan Google Maps sehingga setelah mengetahui bentuk bidang tanah, bisa di-klik rute untuk dilacak titik lokasinya (seperti ketika kita membagi lokasi keberadaan kita di WhatsApp).

Apakah kalian mengerti dengan catatan yang kubuat? Jika belum, kalian bisa bertanya ke Kantor Pertanahan setempat yaa. Terima kasih.