Langsung ke konten utama
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10213310757432723&set=a.10213017900711488&type=3&app=fbl

ini cerita tentang perjuanganku menjadi Jihan yang baru,,




Cerita eksplore Solo itu sebenarnya berawal dari sini,,,
Kala itu 30 Oktober 2018 jadwal test pertama saya,, dapat sesi pertama (jam set 7 pagi harus sudah registrasi) mau tak mau harus nginep di rumah penduduk yang tak jauh dari tempat test. Karena hotel terdekat sudah penuh, dan waktu itu belum kenal om trave***a 😁
Dapat di rumah mbah Samtini, ketika saya nanya setunggal dintene ngaturi pinten,mbah? Dijawab "pun monggo kerso,,kulo mboten ngarani" duhh meleleh hati ini,, maturnuwun sanget bantuanipun, mbah,,(belum sowan lagi kesana, ngapunten),,

Malame ada drama Ghani rewel minta pulang karena gak terbiasa nginep di rumah orang yang bukan saudara,, Kebetulan cucu mbah Samtini ada yang seumuran Ghani dan kamar yang kami tempati adalah kamar cucu beliau jika berkunjung kesitu tiap minggu. Nama cucunya Ghania (kya nama almh adikmu ya nang 😢)..

Buku2 mbak Ghania akhirnya dibaca-baca sama Ghani buat pengusir jenuh,, emaknya juga bawa buku, niatnya buat belajar ternyata sama sekali gak bisa masuk karena sudah sangat capek di perjalanan Gubug-Sragen, sorenya masih ngelesi waktu itu,,,

Pagi pun tiba,
Dengan bekal do'a dan restu orang tua serta diiringi rengekan Ghani yang belum ndolor, ibuknya ikut test di peluang terakhir demi masa depan yang lebih indah, saya melangkah ikut antri pemeriksaan kartu ujian dan perlengkapan

Ada bagian yang kurang menyenangkan yang saya terima dari seorang panitia, tapi gak usah ditulis di sini, suatu saat jika bertemu beliau akan saya sapa dengan senyum saja 😊

Test SKD pun dimulai,,
Mumet dan ruwet rasanya,,
Alhamdulillah lolos passing grade peringkat 4 dari 42 peserta

--- Bersambung kapan2 kalo sempet nulis 😁😁😁

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Ramadhan Story -- Target Ramadhan tahun ini

Oleh : Jihan Maria Ulfa, S.T. Day 1 Target Ramadhan tahun ini Setiap kali Ramadhan, semua umat muslim di seluruh dunia sangat antusias merayakan. Karena seperti yang kita tahu, bahwa pada bulan suci tersebut Allah menjanjikan semua ibadah yang kita jalankan, pahalanya akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau berlomba mendapatkan kasih sayang dan keberkahan dari Allah? Tentu semua mau, begitu pula aku. Selain rutinitas sahur, tadarus yang lebih intens, sholat tarawih, dan undangan buka bersama, ada kebiasaan yang selalu aku lakukan sejak baligh. Kebiasaan yang tidak terlalu istimewa sebenarnya. Yaitu menghitung jumlah hari halangan. Karena siklus bulanan-ku random, beberapa kali kewajiban puasa di Bulan Ramadhan ku jalani dengan penuh. Saat Ramadhan berakhir, aku sudah terbiasa melanjutkan puasa dengan puasa qadha dan puasa syawal.  Sepanjang ingatanku, puasaku full di tahun 2005, 2009 (sebelum menikah), 2012 (ketika hamil), 2016, 2023 dan 2025. Namun bukan itu yang ingin aku ceri...

My Ramadhan Story -- Tetap produktif saat Ramadhan

Day 6 Tetap produktif saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang dengan dua wajah yang sama-sama menuntut , ia lembut, tapi juga keras menguji. Ada haus yang harus ditahan, ada kantuk yang lebih sering datang, ada jadwal ibadah yang ingin kita jaga sepenuh hati. Di sisi lain, pekerjaan tetap harus berjalan , tetap harus dikerjakan karena d eadline tidak ikut berpuasa , tidak bisa menunggu nanti-nanti . Target tidak ikut melambat  berhenti . Dan sebagai ibu pekerja yang juga mencintai dunia menulis, Ramadhan terasa seperti maraton panjang yang harus ditempuh dengan napas teratur , dan dijalankan dengan niat yang suci .  Meraih keridhoan Ilahi. Tetap produktif menulis di bulan Ramadhan bukan tentang memaksa diri menjadi mesin. Justru sebaliknya, ini tentang mengelola energi dengan bijak  dan isi otak yang dingin . Sejak sebelum Ramadhan aku  belajar bahwa waktu setelah sahur dan sholat Subuh laksana vitamin . Pikiran masih jernih, rumah masih heni...

My Ramadhan Story -- Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan

  Day 9 Kebiasaan baik yang ingin dibangun saat Ramadhan Oleh Jihan Maria Ulfa, S.T. Ramadhan selalu datang seperti tamu yang lembut tapi tegas. Ia mengetuk pelan, namun membawa cermin besar untuk kita berkaca. Setiap tahun, aku selalu bertanya pada diri sendiri, kebiasaan baik apa yang ingin benar-benar kubangun, bukan sekadar kujalani sebulan lalu hilang setelah takbir berkumandang di hari kemenangan. Tulisan hari ini sedikit nyambung dengan tulisan kemarin ya, kalau hari biasa aku selalu melakukan rutinitas mengaji sehabis Sholat Maghrib dan tidak pernah menyalakan televisi, di Bulan Ramadhan aku juga tetap melakukannya. Bahkan di waktu-waktu seperti setelah sahur atau menjelang berbuka. Sejak sebelum menikah, punya anak, dan kini sudah jadi single mom yang bekerja di luar kota kebiasaan (yang menurutku) baik itu sudah ku lakukan setiap Ramadhan tiba. Yah, apalagi aku ngekost di luar kota yang tidak punya akses nonton televisi jadi pas kan? Kebiasaan baik lain yang sebenarnya (s...