Senin, 31 Agustus 2009

ALLAH dekat s’lalu


ALLAH dekat s’lalu

Pernah ku bertanya
Allah...Engkau dimana?
Dia pun berkata
Aku dekat saja

Allah Maha Melihat
S’gala yang ku perbuat
Dia Penghapus Dosa
Hamba yang meminta

Setiap langkah yang ku tempuh
Hendaklah tuju padaNya
Sebab bila bukan kar’naNya
Semua ‘kan tersia

Bila kuluruskan niatku
Allah ‘kan maafkan ku
Kutanamkan dalam hatiku
Allah dekat s’lalu

Syair lagu tersebut kudapat dari seorang mahasiswa, aktifis ROHIS yang mungkin dari UNDIP, Ramadhan 10 taun yang lalu.........
Lagu yang senantiasa membuatku ingat bahwa Allah selalu dekat dengan kita, meskipun kita sering dengan sengaja menjauh dariNya
Allaahu Rabbiy.........Ighfirliii.....
Ya Allah....aku masih berusaha melakukan semua hal yang terbaik untuk dekat dengan Engkau...dengan cintaMu...dengan keridhaanMu...
Syair lagu tersebut senada (hasil tafakkur terhadap salah satu ayat dalam Al Qur’an) dengan QS. Al Baqarah : 186, yang Insya Allah artinya: “ Dan bila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka sungguh, Aku dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo’a, bila ia mendo’a kepadaKu, maka hendaklah mereka mendengarkan Daku dan beriman kepadaKu, supaya mereka mengikuti jalan yang lurus dan lempang” (sumber: Bacaan Mulia, hasil terjemahan Dr. H B Jassin, 1982:37)

Semoga kita selalu menjadi orang-orang yang selalu berusaha mendekat dengan Allah, Tuhan Semesta Alam...Amiin.....

Sabtu, 01 Agustus 2009

cerbung


ANTARA AKU DAN RAKA

Aku memang pergi
Tapi tak lari darimu
Aku memang jauh
Tapi tak menepikan namamu
Aku memang diam
Tapi bukan membencimu

Inilah caraku
Mencintaimu

Uff… aku nyaris tak percaya dan tak menduga, dalam kesendirianku aku bisa menulis puisi bertajuk cinta yang berjudul….. ah-ya, aku lupa! Aku belum mencantumkan judul di atas barisan kalimat itu. CINTA???? Ah… tidak! Ini bukan tentang cinta, CARAKU MENCINTAIMU….yah rasanya itu judul yang tepat untuk melengkapi puisi dadakan yang baru saja kuciptakan untuk seseorang yang saat ini entah dimana dan bersama siapa. Puisi yang tepat pula untuk melukiskan perasaanku yang sedang kalut dan berbuntut hati yang berselimut kabut and the last…. Sulit banget untuk kucabut.
Aku… Diandra Novita Putridwi Winoto. Sweet seventeenth lady asal Semarang kelahiran 6 November. Lahir sebagai anak kedua dari keluarga Ir. Winoto. Adik dari seorang kakak laki-laki yang perhatian dan sayang tapi kadang kala minta ditendang, Abimanyu Okta Putra Perdana Winoto. Sedihnya… aku baru putus dari….Raka…. Uh! Sekarang nama itu terasa menyebalkan di telinga dan perasaanku. Kenapa tiba-tiba dia mengakhiri semuanya, padahal aku masih mencintainya, dan kalo masih mungkin aku masih bisa memperbaiki semua yang telah terjadi. Ah…tidak! Aku tidak mau lagi mengemis cinta Raka , tidak akan!!! Tunggu!!! Benarkah dia yang mengakhiri semuanya, bukankah aku yang selama ini tidak menjawab semua e-mail yang masuk darinya, tapi kan aku sibuk. Bukankah ketika kita berkomitmen untuk menjalin hubungan dengan seseorang kita harus rela berkorban? Kenapa waktuku selama ini hanya tersita untuk proyek sosial yang sedang kugalang bersama teman-teman di sekolah, tapi kan itu penting, benarkah sepenting itu hingga aku melupakan Raka yang selama ini mengisi hari-hariku dengan pesan-pesan lucu yang bisa membuatku tertawa dan menghilangkan semua penatku. Benarkah aku yang salah? Tapi harusnya Raka juga pengertian dan percaya dong dengan semua aktivitasku. Bukankah…. Bukankah…. Tapi…. Semua pertanyaan dan pernyataan sanggahanku semakin berkecamuk dan berputar-putar di kepalaku. Entahlah, pusing….pusing…pusing….

* * *

“ Nglupain itu gak mungkin, mau tidak mau dia juga pernah ada di hati. Let it flow aja, Di…. Kamu kan cantik, pinter, aktivis sekolah, pasti banyak yang pengen jadi cowok kamu, gak usah pusing, aku yakin, bentar lagi kamu pasti dapat pengganti Raka.” Kata Dinta, sahabatku sejak masuk ke SMU 2, ketika aku curhat soal Raka.
“ Gak segampang itu, Ta. Kamu kan tau aku bukan tipe cewek yang mudah jatuh cinta. “ jawabku.
“ Tapi setidaknya kan kamu bisa deket ma cowok-cowok itu, Di….sebagai teman ngobrol aja …. Gak masalah, kan? Siapa tau ada yang cocok … “ Dinta masih sibuk meyakinkanku untuk mencoba sedikit melupakan Raka dengan mendekati cowok-cowok di sekolah ini. “ Coba deh….masa sih sedikitpun kamu gak pernah tertarik pada Yudha anak Pas-Q itu, padahal kan dia getol banget ngejar kamu sejak kelas 1, ato…. Edo bintang basket itu, menurut kabar yang beredar dia baru aja putus dari Lintang. “ dasar Dinta…. Cowok-cowok seperti itu bukan tipeku, Ta , batinku.
Aku mencoba tersenyum mendengar pendapat shobat cerewetku ini, meski aku masih larut dalam perasaanku yang sedang galau plus kacau dan balau.
“ Nah gitu dong, senyum…. Yang liat kan juga ikut seneng, ya gak Ta….” Suara bariton milik Rudi, teman segengku juga, mengagetkanku. “Lagi ngomongin apa sih…” tanyanya.
“ Mau tau aja, ini urusan cewek, you know! “jawabku.
“ Iya nih….Ngapain sih ikut-ikut” Dinta ikut sewot
“ Lho koq pada marah sih, lagi dapet yaa….” Kata Rudi sambil cengar-cengir.
“Apa-apaan sih, Rud….” Tepisku. “Dasar gilaaa….pengen tau aja lo, sana beliin qta es krim !”
“ Yaa koq ujung-ujungnya aku jadi pembantu lagi sih” Rudi bersungut-sungut.
“ Siapa suruh nyampurin urusan qta, ya Di….” Cibir Dinta.
“ Ya deh, aku minta maaf, aku khilaf koq, heeee…. Yuuk ke kantin aja, ada menu baru tu di sana”
“ Yo-haaa, tapi lo yang traktir ya, Rud. Lagi kismin ni, hee…” jawab Dinta sambil menggandeng tanganku.
“ Oke-oke….ayo dong, Di….huh dasar cewek, gak tau orang lagi laper yaaa…” Rudi ikut-ikutan menarik tanganku yang satu lagi.
Aku yang males-malesan mengikuti mereka terpaksa menerima ajakan Rudi, ditraktir sih…lumayan ngirit uang saku, hee… sejenak aku melupakan persoalan yang baru saja kubicarakan dengan Dinta. Meski kami bertiga bersahabat, aku lebih sering meminta pendapat pada Dinta, konyol dong kalo aku nyeritain masalah tentang cowok ke cowok. Tapi tak jarang pula aku minta pendapat pada Rudi, apalagi kalo pelajaran Kimia, pelajaran favoritnya. Sampai sekarang, setauku, Rudi tidak pernah tau soal Raka yang sekarang berada nun jauh di Australi untuk melanjutkan sekolah sekaligus mengikuti ayahnya yang punya perusahaan disana.
“ Wah, Rud…asik banget yaa jadi lo, dikerubutin dua cewek cantik, satu sisi ada Diandra, di sisi satunya lagi ada Dinta. Maruk banget lo, bagi satu dong” celetuk seorang cowok ketika kami berjalan menuju kantin.
Bukan Rudi kalo gak bisa jawab dengan kekonyolannya, “ Yaa emang nih, gak tau kenapa gue jadi rebutan mreka berdua, padahal gue….” Dan seperti biasa sebelum Rudi menyelesaikan kalimatnya, aku dan Dinta siap-siap mendaratkan bogem di mukanya. “Waaa….lariiii” teriak Rudi sambil berlari menuju kantin. Dan seperti biasa juga, aku dan Dinta mengejarnya sambil berteriak “ RUDI GILAAAAA……”

* * *

Aku kembali mengupas obrolanku dengan someone yang saat perkenalan tadi menyebut namanya Dirga, di taman kota. Tapi…ngomong-ngomong aku tadi ngapain ya ke taman kota?ups…kebiasaan!!!aku sering lupa dengan apa yang kulakukan kalo sedang bingung. Oya…tadi aku baru saja les Matematik dan di taman kota itulah tempat favoritku ketika menunggu angkot pulang, kalo kebetulan Rudi yang tajir itu tidak mengangkut aku dan Dinta ke mobilnya. He-he…aku baru ingat, eh…gak penting diceritain ya…ya udah balik ke cerita inti aja deh…
Dirga, cowok yang sekolah di SMU 5 itu ternyata kenal banyak dengan teman-temanku waktu es-em-pe, hingga obrolan kami pun nyambung. Dia juga tau banyak tentang Raka yang ternyata temen es-denya itu.
“ Raka sekarang sekolah di Australi…. Dia kesana ikut bokapnya, bokapnya kan punya perusahaan textile disana…. “ jelasnya panjang lebar, meski aku malas mendengarnya, tanpa dia cerita pun aku sudah tau tentang Raka, bahkan mungkin lebih tau dari cowok gokil ini, Raka kan…. Mantanku…
“ Kalian putus kenapa? Jangan-jangan kalian putus karena salah paham yaa…” aku tidak menjawab pertanyaan konyol itu, emang siapa sih Dirga ini… huh…kenapa juga aku tadi nyeritain masalah “ putusku “ padanya, jadi tambah panjang ni urusannya.
“Sori, aku duluan, angkotku udah datang” kataku ketika angkot yang kutunggu datang. Dirga melambaikan tangannya, kubalas lambaiannya dengan senyumku.
Semula aku berfikir kalo Dirga sudah terlalu mencampuri urusanku dengan Raka, tapi lama-lama kata-kata yang Dirga ucapkan tadi membuatku berfikir sama. Yaa…jangan-jangan kami salah paham, Raka mengira aku telah menduakannya karena tidak pernah membalas e-mail ato tidak pernah menerima teleponnya, dan aku terlalu berfikir pendek, Raka sudah tidak percaya lagi padaku dan tidak mengerti kesibukanku.
“ Di…di antara sekian banyak kesalahan, salah paham itu buntutnya paling panjang dan bercabang-cabang” wise word yang sering diucapkan Kak Abi melengkapi kebingunganku. “ Salah paham bisa bikin kita nggak tau, mana salah mana benar. Trus saling curiga, saling tuduh. Ditambah lagi tuduhan itu bisa nyebar kemana-mana. Saat semua sudah jelas, minta maaf ato saling memaafkan bukan lantas jadi persoalan yang gampang. Repot kan…karena itu sebisa mungkin dalam hubungan apapun, persahabatan, pacaran ato bahkan ketika qta sudah lebih jauh berkomitmen dengan seseorang dalam ikatan pernikahan, hindari kesalahpahaman itu….” Begitu kata Kak Abi, calon psikiater di keluarga besar kami.
Aku ingat betul kata-kata Kak Abi waktu itu, waktu dia sedang menghafal materi kuliahnya, dan sampai saat ini kata-kata itulah yang menjadi pedomanku dalam menjalin persahabatan dengan Rudi dan Dinta yang sudah berjalan 2 tahun ini. Kalo aku bisa mengimplementasikannya pada hubungan persahabatanku, kenapa pada Raka tidak? Aku mulai menyalahkan diriku sendiri. Ya-ya mungkin Dirga benar, tapi siapa sebenarnya Dirga itu, malaikat yang dikirim oleh Tuhan untuk memperbaiki hubunganku dengan Raka-kah? Entahlah…yang jelas aku harus minta maaf pada Raka, tapi gengsiku untuk tidak mengemis cinta lagi pada Raka, bagaimana? Entah karena aku sudah tidak mampu berfikir ato karena memang kelelahan, malam itu aku tertidur sejak pukul 8 malam. Dan esoknya….

* * *

“ Ta…kalo aku balikan ma Raka gimana???” tanyaku.
Dinta terbelalak, aku sudah mengira ekspresi Dinta akan seperti itu.
“ Lho…bukannya kemarin kamu cerita banyak ke aku kalo kamu udah gak cocok ma dia karena ini-karena itu, kenapa kamu tiba-tiba…..”
“ Iya…tapi, kalo aku ma Raka sebenarnya cuman salah paham gimana, aku bisa jelasin semua ke Raka koq, aku juga bisa minta maaf dulu ke dia kalo perlu”
Dinta manggut-manggut. “ Sebagai sahabat aku akan selalu mendukung apapun yang jadi keputusanmu, Di… tapi aku tidak ingin melihat kamu kecewa untuk kedua kalinya….Meski aku belum pernah melihat Raka sebelumnya, tapi aku berharap dia nggak akan membuat kamu sakit lagi… “ jawab Dinta akhirnya. “Mmmm… tunggu, Di…pasti ada yang menyebabkan kamu jadi berubah pikiran seperti ini, siapa??? “ Dinta berkedip nakal.
“ Dirga….” Jawabku pendek.
“ Siapa sih si Dirga itu? Emang dia ngomong apa aja ke kamu sampai kamu berubah kaya’ gitu?”
Aku angkat bahu. “ Udah deh gak penting diceritain, eh…tuh kekasih hatimu kesini, pasti mo nyamperin…” aku menghentikan pembicaraanku karena Rudi datang.
“ Huh…gak lah yaa…” jawab Dinta.
Aku tertawa, satu masalah hampir kuselesaikan, masalah dengan Raka. Tapi benarkah selesai….
“ Hallo cewek-cewek…udah pada kangen yaa ma abang?”
“ Ih…ge-er, siapa lagi yang kangen ma lu, kangen njitak lu tu yang bener, yaa gak, Di….” Kata Dinta.
“ Lho koq sewot sih, manis…ya deh abang minta maaf soal tadi, kan abang cuman telat jemput 10 menit….Dian aja gak marah….” Rudi memang kebagian njemput aku dan Dinta untuk bareng-bareng berangkat sekolah naik Honda Jazz-nya. Dan karena kekonyolan dan seringnya kami bertiga bercanda itu, tak sedikitpun terbersit keinginan untuk menjadikan Rudi ada di hati lebih dari seorang sahabat. Dia sudah terlalu jauh mewarnai hari-hariku dan hari-hari Dinta dengan semua sikap perhatiannya sebagai sahabat, ato kakak mungkin, karena dia anak tunggal yang tidak punya adik yang bisa dimanjakan dan disayang. Itu bagiku, tapi entah bagi Dinta.
“ Di…Woi…ngelamun aja, udah bel tu…ntar dimarahin Pak Har, baru tau rasa lu….” Dinta mengajakku masuk ke kelas II-4, kelas kami. Sedang Rudi sudah melesat lebih dulu. Yaa dia harus mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan Pak Har, karena dia ketua di kelas kami. Kalo semua belum siap saat Pak Har datang bisa-bisa ulangan mendadak akan diluncurkan, ato marah-marah sepanjang pelajaran berlangsung. Dan semua itu akan membuat kami semakin tegang menerima Fisika, pelajaran yang konon dibenci banyak siswa setelah Matematika.
Semua siswa di SMU 2 ini tau, Pak Har yang mengampu pelajaran Fisika, terkenal strength abis. Jangan kata tugas ketinggalan, murid datang telat pas mata pelajaran inipun bisa bikin beliau mencak-mencak, meski yang aku tau, beladiri yang beliau kuasai adalah karate bukan pencak.
“ Diandra…coba kerjakan soal nomor 3…” perintah Pak Har tiba-tiba membuat jantungku hampir copot karena suara gelegar halilintarnya itu, untung aku lebih cepat bereaksi, hingga kuputuskan untuk menghela nafas dan memasang jantungku kembali sebelum benar-benar jatuh ke lantai keramik kelasku.
“ I-iya, Pak…” aduh…masih terlihat grogi yaa, wah jangan sampai jadi sasaran yang empuk bagi Pak Har deh….bisa semakin ganas tu bapak, dan bisa-bisa jadi kambing congek di depan kelas kalo tidak bisa mengerjakan soal yang beliau berikan.
Untung juga aku menguasai bab ini, jadi…seneng juga bisa lolos dari terkaman Pak strength.
“ Bagus….” Puji Pak Har setelah melihat hasil pekerjaanku yang dinyatakan betul olehnya.
Bel tanda selesainya pelajaran Fisika akhirnya berbunyi. Ufff…leganya…

* * *


Hari ini aku meluangkan waktuku untuk membersihkan kamar belakang yang sudah mirip gudang karena penuh dengan barang-barang itu. Aku ingin membuat perpustakaan keluarga di ruangan ini.
“ Duk....” kakiku seperti tertumbuk pada sebuah buku tebal. Suara yang begitu keras mengiringi suara lainnya yaitu suaraku yang mengaduh kesakitan. “Aduuh....apaan sih ini?”.
Kuamati buku tebal bersampul biru laut dengan gambar penuh cinta. Ow...ow..sebuah diary rupanya. Tapi ini milik siapa? Kubuka dan kubaca lembar demi lembar, akhirnya terjawab sudah kebingunganku, ini diary Mbak Bulan, sepupuku yang pernah menempati kamar ini beberapa bulan yang lalu sebelum akhirnya dia pindah karena kuliah di Yogya. Umurnya sebaya dengan Kak Abi. Ah...aku tak berhak membacanya.....It’s Bulan’s secret.

* * *